Saturday, May 26, 2007, posted by TanpaMakna at 12:51 AM
"Seseorang berubah menjadi malaikat ketika ingin meminjam,
dan menjelma bentuk sebagai iblis saat hendak ditagih" (By : Ayya)

Melihat karib sukses, siapalah yang tak bahagia? Demikian pula denganku. Salah seorang temanku tengah berada di puncak kegemilangan. Kariernya meningkat, ekonominya pun membaik. Ditandai dengan bertambahnya jumlah barang dirumahnya (dua handphone baru dengan digit harga di atas satu juta rupiah masing-masing), rencananya untuk berlibur ke Bali beserta keluarganya, tak lupa senyum sumringah yang selalu menghias wajah istrinya. Alhamdulillah, Akupun turut bersyukur buatnya.

Namun, ada sesuatu yang membuat hatiku tak nyaman. Sungguh kawan, bukan rasa iri, apalagi dengki. Mudah-mudahan sifat itu menjauh dari diriku. Aku hanya ingin kawanku yang tengah dirundung keberuntungan itu, sedikit mengingat utangnya padaku. Tak seberapa jumlahnya dibanding bonusnya, mungkin tak sampai satu persen nilainya. Tapi, itu amat sangat kubutuhkan saat ini, saat kutengah berjuang mengembangkan bisnis sendiri. Yang membuatku bersedih, belum nampak itikad baik darinya untuk segera melunasinya.

Telah beberapa kali kulihat, tali persahabatan, bahkan ikatan persaudaraan tercerai berai akibat harta. Dan itu tak ingin kualami. Tapi, menunggu hingga niatnya muncul untuk segera menuntaskan tunggakannya juga sangat menguji kesabaran. Apatah lagi, sewaktu berada ditengah-tengah keluarganya, utamanya istrinya yang lagi gencar-gencarnya mempublikasikan hasil pencapaian suaminya. Huh, sungguh menggemaskan...!!! Sindiranku pun ternyata tak manjur buat mereka.

Kawan, beri solusi dong, jalan apa yang sebaiknya kutempuh...

Labels:

 
4 Comments:


At May 27, 2007 at 10:56 AM, Blogger Blogku

tagih saja langsung dengan kata2 yg baik tentunya nda papaji itu...sa pernah begitu jg akhirnya uangku kembali hubungan jg ttp terjaga ( tp nda mau ma kasi pinjam ki lg hehe..)
btw..salam kenal...:D

 

At May 28, 2007 at 12:43 PM, Blogger isnuansa_maharani

bener, tagih aja langsung kalo disindir nggak mempan... siapa tahu dia lupa kalo masih punya utang

 

At May 29, 2007 at 1:07 AM, Blogger TSUKMADEH

Sabar aja Om...

Gak usah ditagih, kl menurut pendapatku...
rejeki gak kemana... kalo emang itu rejekimu, dengan sendirinya akan kembali...
tp kl bukan rejekimu, nagih sampe mulut keluar api juga gak akan dibayar...

so, dari skr cobalah belajar tuk ikhlas...
karena keikhlasan lebih mahal dari setumpuk emas sekalipun...

aku juga pernah ngerasain kayak gitu. tp kalo kita bisa ikhlas, pasti akan ada rejeki yg lebih besar dari itu...

tks...

 

At May 29, 2007 at 3:25 PM, Blogger Sekarindo Bakti group

Aku setuju ama tsukmadeh...apalagi kaum dagang seperti saya. Klau mau dihitung uang di orang lain bisa buat bangun bisnis 1 lagi kali. Tapi ya biarinlah...berperinsiplah semakin banyak memberi akan semakin banyak menerima. Kita hanya sebagai pemegang sementara titipanNya. Ok ..yang iklas saja...rejeki sudah ada yg ngatur. Tetap semangat..kaga usah dipikirin terus entar kan ada yg ganti dgn yg lebih gede.