Saturday, January 27, 2007, posted by TanpaMakna at 10:09 PM



Don't judge book by its cover
and Don't judge people by his room


Ket Gambar :
1. Barang-barang yang ada dikamarku. Rata-rata old stuff, seperti komputer Pentium 233 MMX, modem external, pesawat telpon, televisi Akari 15 inchi berpasangan dengan antena dalam, buku-buku, jam, speaker aktif simbadda, ada juga kipas angin dinding merk Matsunichi(tidak tampak dalam gambar)

2. Views from my room's windows. Kamarku ada dilantai satu, jadi bisa lihat seng-seng rumah dan antena tetangga.

3. Tempat tidurku, springbed kecil, cuma cukup buat sendiri. Berantakan ya? Maklum saja, aku kan masih buzangan.

4. Tempat sampah (buat buang sampah) dan keranjang majalah (untuk simpan majalah).

Any comments?

Labels:

 
Thursday, January 25, 2007, posted by TanpaMakna at 11:26 PM
Masa lalu adalah kenangan
Masa depan adalah angan-angan
Masa kini, itulah kenyataan
(Kata-kata orang bijak, entah siapa namanya)

Kata-kata itu mesti kucamkan dan kuresapi baik-baik dalam hati saat ini. Karena sebuah peristiwa, membuatku teringat kembali intisari nasihat diatas. Mau tahu apa yang terjadi kawan? Baiklah, mau tak mau akan tetap kuceritakan disini :

Rabu, 24 Januari 2006, sekitar pukul 10.30. "Kring...kring" Hpku berbunyi (anggaplah begitu nadanya, susah soalnya mencari istilah yang tepat). Tertulis dilayarnya yang masih berwarna biru nama pemanggil "ThePastHusband". Ternyata seseorang dari masa lalu yang mencoba mengontakku, menggunakan hp suaminya. Begitu kuangkat, langsung saja dia menyerocos :

"Aya, Aya, kalau Saya cerai mau tidak kau terima Saya kembali?"lirih suaranya, disela-sela tangisnya yang tertahan.
"HAH !?!?" Entah mau jawab apa aku saat itu.

Baru sepersekian detik kemudian, kutahu pangkal masalahnya dari ceritanya yang mengalir deras. Suaminya ternyata pernah melontarkan penyesalan telah menikah dengannya. "Dia menyesal kawin sama anak-anak" katanya sedih. Wanita yang pernah mengisi hari-hariku selama 4 tahun ini memang fisiknya saja yang dewasa, namun jiwanya masihlah jiwa seorang bocah yang polos dan lugu.

Suaminya pun, kisahnya, hampir tiap hari menghinanya dengan sebutan bodoh, tolol, goblok, dan sejenisnya. "Padahal, Saya tidak bodoh kan Aya? Buktinya, saya dulu bisa kerja di Bandara, iya kan?" terdengar rengekannya meminta dukungan. Sekian lama berteman dengan wanita ini, kusangat mafhum kalau dia tersinggung. Dia memang makhluk hipersensitif, sedikit salah kata saja dariku ketika kami berdua masih jalan, bisa membuatnya murung, ngambek, menangis bahkan jadi alasan untuk minta putus. Dulu, Aku mesti pintar-pintar menjaga lisan jika bersamanya, sebab hanya kata-kata pujian meskipun rada gombal yang ingin didengarnya. Betul-betul sifat yang kekanak-kanakan bukan?

Meski hati sedikit perih, bagaimanapun masih tersisa sayangku terhadapnya, tak mungkin aku menganjurkannya berpisah dengan suaminya. Apalagi, mereka belum cukup setahun berumah tangga. Jadi, dengan berusaha agar terdengar sebijaksana dan setenang mungkin, kuanjurkan agar dia berdamai. "Artis yang sudah hampir cerai saja bisa berdamai " saranku berusaha bercanda. Aku tak dapat menceramahinya panjang lebar karena sayup-sayup kudengar suara suaminya disampingnya, rupanya dia menguping pembicaraan kami.

Kawan, cinta sejati katanya ketika merelakan seseorang yang dicintai berbahagia, meski kebahagiaannya diperoleh saat dia bersama orang lain. Itulah yang menyebabkan sedihku cepat berlalu saat wanita itu dilamar orang lain yang jauh lebih mapan dan dewasa dariku.

Pikirku, dia pasti akan berbahagia dengan segala kelebihan yang dimiliki laki-laki itu. Tak kusangka, ceritanya akan begini. Tetapi,bukankah hidup adalah pilihan, dan itu pilihan yang diambilnya. Dan Akupun tak boleh terjebak dalam nostalgia masa lampau, saatnya aku meniti jalan di masa kini, menuju ke masa depan, apapun yang terjadi.

Good bye honey, aku tahu kamu wanita yang kuat, yang mampu menyelesaikan masalah seberat apapun. Aku percaya, karena kamu telah berulangkali membuktikannya padaku. Perahu rumah tanggamu pasti bisa melewati badai, yakinlah.

Kubaca horoskopku hari ini, Capricornus, di Friendster. Aku tak percaya ramalan kawan, cuma sarannya kadang cukup berguna.

"Ingatlah, Anda memiliki kemampuan dan tanggung jawab yang terbatas untuk membuat semua orang bahagia. Meskipun Anda sangat ingin melakukan itu", very good advice.

Labels:

 
Monday, January 22, 2007, posted by TanpaMakna at 8:36 PM


Berada di usia 25 tahun kerap berarti merasakan kegelisahan di setiap waktu. Paling tidak, itulah yang aku rasakan kini. Gelisah yang timbul karena tak kunjung bersua makna hidup, sementara umur kian memendek.

Gelisah mencuatkan hampa dalam hati, hampa yang tak mampu tertutupi oleh segala macam pernik dan hiasan dunia. Materi, pangkat, wanita, semakin lama terasa kian hambar dan menjadi sesuatu yang semu dan tak berarti.

Hampa perlahan melahirkan kejemuan akan hidup,yang tak satupun hiburan dunia mampu menghapuskannya. Tawa dan gembira pun menjadi hal teramat biasa yang kehilangan kesegarannya.

Berada di usia 25 tahun berarti berusaha bersikap realistis memandang dunia. Dan bersikap realistis tak jarang disamakan dengan melupakan bayangan indah tentang masa depan yang mulai terasa muluk dan tak mungkin. Demikianlah diriku. Mimpi-mimpi di kala kanak dan usia remaja perlahan kian tak terkejar, dan aku mesti menerima kenyataan terjebak dalam sebuah pilihan yang sering tak menyenangkan, namun mesti terpaksa dijalani.

Untung aku tak sendiri. Dalam perjalananku, kutemui sejumlah orang mengeluhkan hal serupa, mengalami kisah hidup yang lebih tampak seperti film membosankan tanpa alur, bahkan sebagian lebih mirip mimpi buruk. Tanpa tahu solusi, tanpa tahu jalan keluar, aku dan orang-orang itu terkadang merasa hanya menunggu waktu hingga el-maut menjemput. Lalu, apa maknanya hidup seperti itu?

Labels:

 
Saturday, January 20, 2007, posted by TanpaMakna at 7:16 AM


Wanita : Seberapa besar cintamu padaku?
Pria : Seberapa besar yang mampu engkau bayangkan?
Wanita : hmmm....
Pria : Percayalah...sebesar apapun bayanganmu, cintaku tak sebesar itu. Tetapi, jauh lebih besar lagi dari yang mampu engkau bayangkan.

(Tulisan iseng-iseng, diambil dari fragmen percakapan seorang pria dan wanita pada sebuah pesta perkawinan beberapa hari lalu. Foto diperagakan model agar pembaca blog ini sesekali melihat yang indah-indah)

Labels:

 
Wednesday, January 17, 2007, posted by TanpaMakna at 10:53 PM
Lalu, memasuki tahun ketigaku di Unhas (2002), dan tahun keduaku di IAIN, berhasil juga Vespaku mendapat boncengan. Tidak tanggung-tanggung, gadis kembang kampus Fakultas Adab IAIN tergaet "wibawa" Vespa. Awalnya sempat minder karena sering digelari Nyonya Vespa, gadis yang kini sudah jadi istrinya orang itu lama-lama keenakan dijok belakang motorku. Tiap hari minta dijemput, dan tiap minggu dan hari libur merengek diajak jalan-jalan. Bersamanya pula, Vespa itu kubawa menjelajah hingga Bantimurung, objek wisata di Kabupaten Maros.

Sejak itu, keberuntungan seolah memihakku. Bergantian beberapa gadis cantik dan manis pernah "menduduki" jok belakang Vespaku (enak benar jadi motor ;P). Sindiran tak berkurang, tapi kini sigap kutangkis "emang sudah berapa pantat cewek yang pernah duduk di motor kamu?"

Tahun itu pula aku resmi jadi wartawan. Pertama di Tabloid "MeDIA", kemudian diterima jadi wartawan Remaja di harian "Fajar". Sejak itu, intensitasku berdua dengan skuterku bertambah tinggi. Pengalaman yang tak mungkin bisa kulupa saat motor tersebut mogok ketika aku hendak meliput acara buka Puasa di Panti Asuhan di daerah Daya. Dan tambah serunya, saat itu aku mesti cepat menyetor berita. Soalnya, Deadline kantor lebih cepat dari biasanya karena besoknya libur Lebaran.

Dan, karena motor ngadat, aku mesti mengalami sejumlah kejadian "manis". Yaitu, buka puasa diwarung dengan segelas air mineral dan sebatang rokok; kena "kata-kata mutiara" dari pengurus panti karena terlambat datang dan acaranya sudah selesai; ditemani kawanku Tawakkal mesti mendorong motor sekira dua kilo dijalan yang rusak dan mendaki. Belum lagi, bengkel sudah sulit ditemukan sebab pemiliknya rata-rata pada mudik. Untung akhirnya ketemu bengkel, walau mekaniknya hanya bisa menghidupkannya sementara saja, dan tak menjamin bisa baik total. Akibatnya, beberapa beritaku yang kukumpulkan seharian dengan susah payah jadi basi karena deadline telah lewat. Kaki dan badanku pegal, dan waktu itu aku benar-benar marah pada vespaku.

Akhir tahun 2003, ibu sesuai janjinya menghadiahiku motor baru, tipe sport,Honda Mega-Pro. Ibu kasihan melihatku, yang beberapa bulan belakangan selalu pulang dengan muka kuyu dan cemberut akibat tungganganku yang sudah makin tua itu bertambah rewel. Sejak itulah aku jarang lagi melirik kendaraan keluaran Piaggio itu. Kendaraan itu kuserahterimakan kembali ke Bapak, sebelum Bapak mewariskannya ke adikku. Dan, kenangan dengan motor itupun kian berkurang, hingga akhirnya Bapak melegonya.

Selamat jalan Vespa, semoga kamu mendapat majikan yang jauh lebih baik. Jasamu tak akan kami lupakan, hiks. Semoga pula kau tak lupa sama kami, hiks hiks...(TAMAT)

(Andai vespa bisa ngomong,ngerti internet, dan dapat baca blog, dia bakalan komentar apa ya sama tulisan ini?)

Labels:

 
, posted by TanpaMakna at 9:46 PM


Bapak menjual vespanya hari ini. Teman sekantornya sendiri yang membeli motor keluaran tahun 1989 itu. Tadi siang, vespa yang aslinya berwarna biru namun beberapa tahun lalu malih rupa menjadi merah itu resmi berpidah tangan. Alasan mubazir karena kendaraan itu sudah jarang dipergunakan sejak Bapak lebih sering memakai mobil, aku memilih mengendarai Mega-Pro, adikku memiliki Honda Supra, menjadi pertimbangan bapak melegonya.

Ada rasa kehilangan sebetulnya, bahkan aku sempat melontarkan penolakan ketika beberapa hari lalu pembeli motor itu ke rumah melihat kondisi vespa. Demikian pula ibuku sempat menyatakan ketidaksetujuannya. Kali ini kami berdua kompak dan alasan kami intinya sama "vespa itu bagian dari sejarah keluarga". Namun, alasan ekonomi juga yang berkuasa. "Pajaknya beberapa bulan lagi jatuh tempo" urai Bapak, membuatku terdiam. Bagaimanapun inginnya aku mempertahankan kendaraan itu, aku masih punya banyak keperluan untuk dibiayai ketimbang membayar pajak kendaraan.

Vespa tersebut memang menyimpan banyak cerita. Bagiku, pun bagi Ibu. Buat Ibu, vespa adalah tanda bukti perjuangannya sebagai "single parents" saat Bapakku sibuk berjuang menyelesaikan studi S2-nya di Jakarta. "Mama harus turun naik damri (bis kota) tiap bulan untuk pergi membayar angsurannya itu motor" kenang ibu. Waktu itu memang pete-pete (angkot) belum seramai sekarang. Hingga ketika beberapa tahun silam waktu aku belum punya motor sendiri dan aku meminta ibu menjual vespa itu lalu membelikanku kendaraan yang lebih bergaya "anak muda", ibu lantang menolak. Dia memilih memberiku satu kendaraan baru tanpa perlu menjual yang lama.

Sementara kenangan Vespa itu bagiku juga cukup banyak. Ada yang manis, meski kadangpula pahit. Kendaraan buatan Italia itu jadi teman setiaku sejak aku duduk di kelas dua SMU, tahun 1998. Menemaniku ke sekolah sesekali (aku malu membawanya tiap hari, kerap dijadikan bahan lelucon kawanku), mengantarkanku bimbingan di JILC, membawaku ke rumah teman, serta mengajakku rekreasi hampir setiap minggu. Benar-benar kawan sejati. Bersamanya pula aku berkenalan dengan Polantas (Polisi Lalu Lintas) saat aku ditilang untuk pertamakali. Seingatku, ada sekitar empat kali aku dijegal Polisi ketika 'berdua' dengannya. Dua kuselesaikan lewat jalur resmi, satu pungli, dan satu lolos berkat jurnalis power.

Kendaraan yang sama pula yang kukendarai saat berkuliah di Unhas, dan di IAIN (kini UIN). Sempat setahun "kuberselingkuh" dengan Suzuki RGR, tapi akhirnya kembali juga aku kepangkuan Vespa. Meski dengan reziko, banyak teman di Fakultas Ekonomi Unhas yang notabene berasal dari kalangan "the have" kerap meremehkan. Bikin minder juga sesekali, dan mungkin pula gara-gara itu aku tak berani mendekati wanita :p (alasan goblok). Meski sebenarnya lewat vespaku pula aku lumayan dikenal, maklum mahasiswa yang bawa kendaraan sejenis ke kampus kayaknya cuma aku saat itu.
(bersambung)

Labels:

 
Sunday, January 14, 2007, posted by TanpaMakna at 9:27 PM
Suporter Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) pantas menangis malam ini. Tim kesayangan harus takluk satu kosong di kandang sendiri oleh tim dari kota Tangerang, Persita (Persatuan Sepakbola Indonesia Tangerang). Tim juku eja pun gagal meraih ambisinya, meraih piala Jusuf Cup ke-XII ini.

Tampil di Stadion Andi Mattalata Makassar dalam grand final Piala Jusuf Cup, PSM sebenarnya lebih mendominasi. Namun, cemerlangnya penampilan kiper Persita, Mukti Ali Raja, yang notabene berasal dari Je'neponto, Makassar mengakibatkan beberapa peluang emas PSM gagal membuahkan gol. Selain itu, keberuntungan juga lebih memihak pada tim tamu. PSM pun harus puas jadi juara II. Lumayanlah, apalagi strikernya Chitescu Leo, jadi pencetak gol terbanyak kompetisi ini dengan empat gol yang dicetaknya.

Informasi selengkapnya, baca aja di koran besok, soalnya ini blogku, bukan media berita. Hehehe, sekali-kali, ngga apa-apa kan nulis tentang olahraga? Sekalian mau membuktikan, blog sekarang memang bisa lebih cepat dari media konvensional dalam menyebarluaskan berita.

Jangan-jangan, ramalan para pakar (lupa siapa namanya, sebut saja Fulan), bahwa suatu ketika blog akan menjadi pengganti media konvensional, bisa terbukti. Makanya, mulai sekarang aku rajin update blogku, entah dengan berita dan informasi terbaru, entah dengan kegiatanku sehari-hari, entah dengan buah perenunganku, atau hanya hal remeh-temeh yang mengganjal di hati. Siapa tahu nantinya blogku akan sepopuler Kompas, Tempo, atau Al-Jazeera mungkin, ketika blog betul-betul telah bertransformasi menjadi sebuah generasi baru media. Makanya, aku harus bersiap diri mulai dari sekarang, dengan rajin-rajin mengisi blogku.

Atau, minimal, kuharap blogku bisa seterkenal Catatan Harian Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, or maybe Anne Frank (mimpi kali yee). Semua catatan yang kusebut tadi kan, selain karena penulisnya, peristiwa yang mereka alami, isi catatannya, yang membuatnya istimewa juga adalah ketekunan, kesabaran, dan kedetailan para penulisnya mencatatkan setiap peristiwa dan pemikiran mereka.

Dan, walaupun semua itu tak terwujud, jika aku berumur panjang dan mencapai usia tua, aku bisa bernostalgia dengan masa lalu lewat blog ini. Benar ngga?Makanya, Ayo nge-blog. Yang sudah ayo rajin di Update!

(Tulisan ini Saya dedikasikan buat teman-teman Aku yang sudah pada kendur semangatnya ngeblog, juga untuk menyukseskan program Wajib Ngeblog Seumur Hidup Dari Pemerintah Republik BBM)

Labels:

 
, posted by TanpaMakna at 12:08 AM
Akhirnya, setelah melewatkan berjam-jam di depan komputer, membuka berpuluh-puluh situs mencari petunjuk mengakali blog, berulang-ulang kegagalan, berhasil juga Aku membuat blog ini tampil dengan wajah baru. Sebenarnya sudah hampir nyerah, mau pasrah saja dengan default template yang disediakan penyedia layanan blog ini, namun rasanya kok kurang puas. Apalagi setelah sering blogwalking, jadi bertambah penasaran.

Dan, setelah kursus kilat pemrograman HTML dan utak-atik blog dari berbagai situs, ditambah skill khusus programmer yaitu copy paste akhirnya...tadaaaaaaaaa. Kawan-kawan bisa menilai sendiri tampilan baru blog ini. Masih standar sih, tapi kepuasannya itu lho, ngutak-atik blog dari source html-nya langsung emang beda dibanding cuma pakai fasilitas insert page elements.

Oh, iya, pada kesempatan ini Saya pengen ngucapin banyak terima kasih pada semua pihak yang tak bisa Saya sebutkan disini saking banyaknya dan ingatan Saya terlalu payah untuk mengingatnya hingga blog ini bisa tampil seperti saat ini (kok kayak kata pengantar makalah ya), sekali lagi, terima kasih. Dan buat teman-teman yang masih terus berjuang 'meluruskan' blognya, keep on tryng guys. Yakin usaha sampai (pinjam mottonya anak HMI) . Ok.

Labels:

 
Friday, January 12, 2007, posted by TanpaMakna at 8:38 PM


Bila kamu disisiku
hati rasa syahdu
Satu hari tak bertemu
hati rasa rindu
Kuyakin ini semua
perasaan cinta
tetapi hatiku malu untuk mengatakannya
...
Bila cintaku terbalas
oo, bahagia sekali
tapi bila tak terbalas
kutak sakit hati

Karena aku menyadari
Siapa ku ini
tak mungkin lagi dirimu
Menyintai diriku
Namun bahagia hatiku
Bila selalu bersamamu

Bila kamu disisiku
hati rasa syahdu
(Syahdu, Rhoma Irama)

Lagu yang indah, irama yang lembut, liriknya sederhana namun menyentuh. Itulah kesan Saya akan lagu ciptaan Rhoma Irama yang bertitel Syahdu ini. Didengar tengah malam, kala sendiri, saat hati suntuk, lagu ini terasa bertambah syahdu. Saya bukanlah pengamat musik yang baik, tetapi menurut Saya, inilah salah satu masterpiece dari musisi yang akrab disapa Bang Haji ini.

Teman Saya, Mas Haris, yang mengenalkan lagu ini. Sering disenandungkannya di kantor, saat teringat kampung halamannya di pulau Jawa. Ceritanya, tiap ada yang nanggap orkes di kampungnya yang terletak di daerah pesisir Jawa Tengah, dia pasti ada dibarisan terdepan. Duet dengan Mas Trisno, teman sekantor lainnya, yang memang punya bakat jadi vokalis, lama-lama jadi menikmati dan penasaran ingin memiliki rekaman lagu ini.

Lalu, disuatu minggu malam, tepatnya 19 November 2006 (ingat betul tanggalnya, soalnya si "masa lalu 1" menikah pada hari itu), akhirnya berhasil juga dapat CD MP3-nya bang Haji (bajakan tentunya), meski dengan penuh perjuangan. Kompilasi dengan artis-artis dangdut lain yang lagunya tak kalah enaknya. Diiringi tatapan aneh penjaga stand CD dan DVD Bajakan yang dulu ada di Jembatan Niaga Panakkukang (sekarang sudah tak ada, kena razia mungkin), ditambah gelak tawa mereka ketika CD itu saya minta untuk ditest, CD itu Saya beli bersama dengan CD MP3 Kumpulan Lagu Terbaik (juga bajakan).

Kembali ke soal lagu Syahdu. Yang bikin saya senang mendengarnya adalah karena isinya tentang cinta yang tak egois (lagi-lagi nulis soal cinta, jangan bosan ya Kawan). Simak saja liriknya. Benar khan? Meski si "aku" yakin mencintai "dia", tetapi "aku" tak sakit hati bila cintanya tak berbalas. Si "aku" menyadari posisinya. Namun, tak menjadi masalah bagi si "aku". Karena berada disisinya "dia" saja, telah cukup membuat hati "aku" rasa syahdu.

Jadi ingat sama seseorang. Seseorang yang merasa sudah cukup beruntung bila menerima SMS dari seseorang yang lain. Biarpun isi SMS itu cuma basi-basi dan mungkin cuma perasaan segan karena tak enak terlalu sering tak memberikan balasan SMS. Jadi ingat sama seseorang. Seseorang yang merubah rute perjalanannya ke tempat kerja hanya agar bisa melintas di depan lorong rumah seseorang yang lain. Kemudian berharap, dapat melihat seseorang yang lain itu. Meski hingga sekarang, keinginan itu tak kunjung terwujud. Tetapi bagi seseorang tersebut, hal-hal konyol seperti itu telah cukup membuatnya bahagia. Kok lama-lama kayak ngomongin diri sendiri ya?

Labels:

 
, posted by TanpaMakna at 8:33 PM

Hari ini, bertepatan bertambahnya usiaku jadi 25 tahun, aku dengan ini menyatakan berhenti menjadi seorang perokok. Sebenarnya, sudah sejak dua hari lalu aku berusaha menghentikan ketergantunganku pada tembakau. Agar lebih dramatis dan berkesan, kupilih tanggal 12 januari ini sebagai tanggal resmi pensiunku sebagai smoker.

Bukan kawan, bukan karena aku terkena penyakit yang mengharuskanku berhenti menikmati kepulan asap rokok. Dua hari lalu Aku memang sakit, tapi tak berhubungan langsung penyebabnya dengan kaluru. Cuma Influenza kok, tak ada kan korelasinya dengan racun nikotin?

Bukan kawan, aku pun belum bangkrut. Aku masih punya cukup uang kalau hanya untuk membeli sebatang, dua batang, bahkan sebungkus rokok (harga standar) sehari. Cek saja rekeningku kalau tak percaya (iyo borro, percayaja)

Lalu, kenapa aku berhenti?Bukankah seisi langit dan bumi (kambuhmi seng hiperbolana) pernah menyuruhku berhenti namun tak kuindahkan?Bahkan, ancaman dikurung di bawah gunung lima jari (Son Go Kong kapang) pun tidak membuatku gentar. Lalu, kenapa? Tanya Kenapa.

Jawabnya sederhana, ya karena aku pengen aja berhenti. Sebenarnya dari dulu sih sadar, merokok itu tidak ada kaidah dan manfaatnya, hanya bakar duit dan nabung penyakit. Faktor gaya, pergaulan, kebiasaan, sama kecanduan bikin aku yang terus saja memasukkan asap ke dalam pernafasan. Hampir 10 tahun pemirsa, eh pembaca, aku meracuni diri sendiri. Goblok sekali rasanya.

Belum perasaan diperbudak ama rokok. Bayangkan, saat tengah malam aja yang disertai hujan deras serta selaksa petir dan gemuruh guntur (waw) aku pun tetap nekat menerobosnya demi mendapat kenikmatan sesaat dari benda yang terbuat dari gulungan daun tembakau yang terbungkus kertas itu. Itu sebagian alasannya. Alasan lain, klise aja. Ya kesehatan, Ya Agama, Ya sikap keluarga sama perokok, itu alasan pendukung.

Kesulitan dan kendala pasti adalah saat aku mengambil keputusan ini. Teman-teman yang belum insyaf dan tidak ikhlas kalau ada yang insyaf, kebiasaan yang susah ditinggalkan seperti kalau habis makan rasanya nggak nikmat kalau tidak mengebulkan asap, belum godaan syetan yang selalu berbisik "satu batang aja, tidak akan membunuh kok".

Tetapi, aku sudah bertekad kok, dan mudah-mudahan tekadku ini bisa langgeng. Tidak seperti sebelumnya, hanya bertahan sehari dua hari, lalu layu tak berbekas. Makanya, ada baiknya kalau tekadku ini kuumumkan di blog ini, kuharap kawanku yang membacanya bisa mengingatkanku kalau aku berniat ingkar dari niatku. Kumohon ya, kawan semua, restunya, agar aku bisa istiqomah, Amien.
Ganbatte....!!!

Labels:

 
Thursday, January 11, 2007, posted by TanpaMakna at 11:54 AM
Besok, jika aku masih hidup hingga hari itu, adalah hari ulangtahunku yang ke 25. Tak banyak yang kuharap, karena aku memang bukan orang yang terlalu memperdulikan hal-hal remeh-temeh seperti itu. Mungkin, sedikit perhatian dari orang yang mengisi dan pernah mengisi kehidupanku, jika besok usiaku genap seperempat abad, telah cukup bagiku. Sekedar ucapan selamat, sebait do'a tulus, dan sebaris pesan pendek, cukup membuatku bersyukur. Tak perlu perayaan itu, tak perlu hadiah-hadiah itu, tak perlu lilin-lilin itu, untuk meyakinkanku, aku tak sendiri di dunia ini. Tapi, sepertinya harapanku itu pun terlalu muluk karena aku merasa tak cukup penting untuk orang lain.
"Aku adalah debu, yang melekat pada bebatuan. Begitu ringan hingga mudah tersaput angin, terhanyut air hujan. Begitu kecil hingga tak berarti, tak diperdulikan. Begitu sepi, hingga tak mengenal sedih, tak mengerti bahagia.
Aku adalah debu, yang terlupakan, tak pernah dikenang. Aku adalah debu, bukan bagian dari kehidupan kalian...

Labels:

 
Wednesday, January 10, 2007, posted by TanpaMakna at 12:29 PM
Hari ini ngga' masuk kerja. Badan demam, kepala berat, pipi ngilu. Kena Influenza lagi,

kayaknya. Ringan sebenarnya, cuma memang dasar malas, jadi alasan pembenar tidak ke

kantor. Kok sejak kerja di tempat sekarang, badanku jadi rentan sekali kena penyakit

ya?Begitu juga rekan-rekan yang lain, kecuali satu orang, Mas Haris. Mungkin karena

cuma dia yang betul-betul kerja, sementara yang lain makan gaji buta. Makanya, rezekinya

tidak berkah.

Labels:

 
Sunday, January 07, 2007, posted by TanpaMakna at 12:56 PM
Ma, Aku tahu kau sangat mencintai anakmu ini. Dan, kusadari, kau tak pernah menyuruhku melainkan hanya untuk kebaikanku sendiri. Aku pun pahami, kau tak ingin anakmu menjadi seorang pendosa, yang melupakan kodratnya sebagai ciptaan. Tapi, kali ini biarkanlah aku yang menentukan jalanku, dan biarkan pilihan berdasarkan hati nuraniku sendiri. Bukannya aku tak butuh bimbingan dan nasehatmu lagi, namun aku hanya ingin bersikap dewasa sekali ini. Dan manusia dewasa menurutku bukanlah orang yang melaksanakan sesuatu hanya karena tradisi, adat, norma, kebiasaan. Bukan pula manusia yang menjalankan sesuatu karena takut, tekanan, paksaan, perintah. Melainkan manusia yang maklum akan segala konsekuensi dari tindakannya. Manusia yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku ingin menjadi seperti itu.

Seperti dalam menjalankan ibadah. Aku rindu beribadah karena aku butuh akan Allah SWT, bukan karena sekadar aku Islam. Aku ingin menjalankan sholat baik wajib maupun sunat, berpuasa, bersedekah, tadarrus, dan lain sebagainya karena jiwaku telah meresapi keindahan-Nya. Dan itu butuh proses. Jadi kumohon padamu Ma, biarkan anakmu menikmati proses itu. Tolong, jangan kau intervensi perjalananku mencari makna, dengan segala doktrin tentang surga dan neraka. Kupinta jangan kau ragukan ketulusan niat anakmu ini, dalam mencari kebenaran sejati. Aku, Insya Allah belum dan takkan tersesat, Ma. Karena itu, berilah aku kepercayaan, karena aku bukan lagi seorang anak kecil. Kau telah cukup memberiku ilmu, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu. Bekal darimu takkan kusia-siakan.

Sholatku memang masih bolong-bolong, jauh dari khusyuk, dan sering melewati waktunya. Puasaku hanya menahan makan dan minum, tadarrusku terhitung jari dalam setahun. Aku tak mengingkarinya, aku tak mencari pembenaran, dan aku tak ingin membohongimu, Ma, dengan menceritakan dan menunjukkan sebuah kemunafikan. Inilah diriku saat ini. Tapi, kuharap kau tak khawatir dengan itu semua, karena aku belum menyerah, aku belum berhenti berjalan, dan aku yakin, saat itu akan tiba, ketika aku mencapai sebuah titik pencarianku akan Kebenaran Sejati. Saat aku menjadi manusia yang bisa kau banggakan pada sesama manusia dan dihadapan Allah SWT. Doa'kan saja anakmu ini, Ma, semoga tak lelah dan tak bosan mencari-Nya. Amien.
 
Wednesday, January 03, 2007, posted by TanpaMakna at 12:11 PM
Sebuah Sandek (pesan pendek alias SMS, mencoba membiasakan menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baik dan benar) mampir di Ponggam (telpon genggam) ku tadi pagi. Tertulis nama pengirim :SariBandung. Isi pesannya singkat : Selamat pagi. Selamat beraktivitas ya, cayo! Dari nama pengirimnya, kawan pasti bisa menebak dia berasal dari Bandung.

Sebuah kejadian sangat sederhana, yang terjadi setiap hari. Seseorang mengirim Sandek, darimanapun dia berada dan yang lain menerimanya, dimanapun dia bermukim, sekarang bukanlah peristiwa yang aneh lagi. Kehadiran berbagai perangkat telekomunikasi seperti telepon, baik yang dipasang di rumah, yang digenggam, pager (masih ada tidak ya), telegram (udah punah belum ya), maupun internet, sejak lama menjadikan dunia tak lagi berjarak. Jangankan sebuah sandek yang hanya berisi text, data lengkap berisi suara, gambar, dan tulisan yang dikirim dari belahan bumi utara saja bisa diterima di belahan bumi selatan dalam tempo begitu singkat, lebih cepat dari satu helaan nafas (maaf, agak hiperbola).

Tetapi, tetap saja aku terkagum-kagum dengan kehebatan dan kekuatan sebuah sandek. Betapa aku selalu takjub menerima pesan dari kawan-kawanku yang nun jauh di rantau sana. Betapa hebat saat kubayangkan, pesan itu melayang-layang menembus rimbunnya hutan, menyeberangi luasnya samudera, mendaki tingginya gunung, hingga bisa tiba ditanganku, bahkan ketika aku belum sempat berkedip (sori, hiperbola lagi).

Sebuah sandek, seperti namanya, singkat, tapi mengandung beragam arti. Dia
dapat menyampaikan kabar gembira, ataupun membawa kesedihan. Dan kitapun, sadar tak sadar mesti mengakui ketergantungan kita pada teknologi ini. Ingat, berjuta rakyat negeri ini baru-baru ini sampai dibuat panik dan kesal oleh salah satu operator selular, ketika layanan Sandek macet saat hari Raya Idul Adha, yang bersamaan hari terakhir tahun 2006. Berjuta pesan gagal tersampaikan, di moment yang begitu penting. Membuatku sedikit merenung, betapa sangat canggihnya teknologi manusia, namun juga begitu rentan.

Labels:

 
Monday, January 01, 2007, posted by TanpaMakna at 5:21 PM
Ketika tiba di suatu hari
Kala satu musim lagi segera berganti
Kuiingin kau disini Sayangku,
menemaniku menikmati pudarnya sang waktu
Sembari memandang matahari terakhir tahun ini
Kita berdua bercerita tentang hidup yang akan dijalani
Di tengah bumi yang kian udzur

Harapku terwujud semalam, saat kau datang dalam mimpiku
Mendampingiku menunggu detik-detik bergantinya suatu jaman
Kita duduk begitu dekat, hingga bisa kudengar lirih suaramu
Melantunkan do'a tentang harapan, cita dan impianmu di tahun depan
Aneh, tak kulihat diriku dalam bagian rencanamu tentang hari esok
"Biarlah yang menjadi milik masa lalu, tetap menjadi milik masa lalu"
Ucapmu lembut, namun terasa tajam

Sosokmu masih terbayang
Saat kuterjaga pagi ini
Dan tersadar, tahun telah berubah
Namun hidupku sepertinya masih terus begini
Berjalan tanpa makna


Selamat tahun baru teman-teman, wherever you are. Jangan biarkan hidupmu berjalan tanpa makna ya, karena kata temanku Ilo, hidup yang berlalu tanpa makna, bukanlah hidup yang pantas diperjuangkan.

Labels: